Musisi dan Pekerja Musik Sebaiknya Punya Organisasi, Candra Darusman: Bisa Menjadi Pressure Groups

Author Fesmi 07 February, 2021


WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Seberapa penting keberadaan hukum positif mengatur persoalan industri musik dan para pelakunya, terutama ekosistem industri musik Indonesia?

Bagaimana pula standar honor musisi di Indonesia?

Candra Darusman, Ketua Umum Federasi Serikat Musisi Indonesia (FESMI), menjelaskan, untuk membahas hal tersebut harus ada campur-tangan pemerintah.

"Campur-tangan pemerintah harus secukupnya," kata Candra Darusman dalam Webinar DIKSI #05: Sertifikasi Musik, Keperluannya dan Kaitannya Dengan Standar Honor, Rabu (28/10/2020).

Candra Darusman mengimbau musisi dan pekerja musik terkait sebaiknya berhimpun dalam FESMI.

"Kalau kolektif, berhimpun, berorganisasi, bisa menjadi pressure groups," katanya.

Candra Darusman. (Wartakotalive.com/Nur Ichsan)

Webinar DIKSI #05 menghadirkan tiga pembicara, yaitu Mattias QVarsell dari Swedish Musucians Union atau Musikerforbundet, Tamam Husein dan Sofyan Ali.

Mattias QVarsell mengatakan, Musikerforbundet di Swedia mempunyai lebih 3.000 anggota yang terdiri dari musisisound enginerlighting person dan profesi terkait.

Sebagian besar anggota adalah pegawai paruh waktu atau freelance. "Posisi mereka sangat lemah di hadapan UU Ketenagakerjaan," kata Mattias QVarsell.

Musikerforbundet mengorganisir 20 persen dari jumlah keseluruhan musisi di Swedia.

Merasa posisinya lemah di hadapan UU Ketenagakerjaan, mereka mendesak pembentukan collective agreement yang mengatur segala hak dan kewajiban anggota dan pelaku ekosistem dunia musik Swedia.

Collective agreement atau undang-undang itu menjadi tempat musisi dan pelaku industri musik Swedia memperjuangkan haknya.

Undang-undang ini dibangun atas kesepakatan organisasi pekerja musik, seperti Musikerforbundet, perusahaan besar seperti radio dan TV, dan politisi.

Di undang-undang diatur antara lain honor musisi berdasarkan kualifikasi tertentu, termasuk kontrak kerja, kerja lembur, hingga asuransi kecelakaan sampai kematian selama produksi hingga konser musik.

 

Sangat Penting

Berdasarkan keprihatinan itu, sertifikasi profesi musisi menurut Tamam Husein sangat penting sekali.

Bukan semata demi menghadapi ASEAN Free Trade Area, tapi sekaligus meningkatkan kualitas pelaku di industri Itu sendiri.

"Meski keberadaan sertifikasi belum wajib, tapi sangat penting. Jika ada musisi yang mau bekerja di wilayah ASEAN, harus memiliki sertifikasi ini," kata Tamam Husein.

Menurut Tamam Husein, keberadaan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang diinisiasi Departemen Tenaga Kerja menjadi sangat penting.

SKKNI menjadi rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan/atau keahlian serta sikap kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan.

SKKNI digunakan terutama untuk merancang dan mengimplementasikan pelatihan kerja, termasuk didalamnya dunia musik.

Sayangnya, kata Candra Darusman, di Indonesia belum diberlakukan sertifikasi untuk musisi.

 

Serikat Musisi

Sofyan Ali, promotor musik yang kenyang melakukan kerjasama kreatif dengan banyak nama besar di industri musik, menyatakan, nasib pekerja musik di Indonesia dapat ditolong jika memiliki serikat.

"Harusnya kita memiliki union yang bisa memberikan manfaat kerja di dunia musik. Meski sayang, saat ini responnya kurang," kata Sofyan Ali.

Sertifikasi harus dilakukan musisi atau seniman langsung yang membentuk Dewan Musik.

"Kalau pemerintah ikut campur malah kurang tepat. Seniman malah akan berhenti," kata Sofyan Ali seraya menambahkan, posisi manajer musik di Indonesia nyaris tidak berfungsi.

Oleh karenanya, Sofyan Ali mengatakan, Dewan Musik harus berperan aktif mengeluarkan sertifikasi musik dan solusi aktif lainnya.

"Union perlu memberikan kerja dan makan ke musisi dan pekerja lain. Nah, dari sini pemerintah hadir dengan memberikan ijin manggung dan lainnya," kata Sofyan Ali.

Union harus menyediakan tempat latihan hingga tempat bermain musik. "Mosok kita kalah dengan Filipina. Meski skill biasa saja, mereka bisa kerja keliling dunia," ujarnya.

Iklim musik Indonesia semakin parah, lanjut Sofyan Ali, setelah industri televisi mengambil peran keliru.

"Keberadaan televisi salah kaprah, yakni menyiarkan langsung konser musik di televisi, yang akhirnya justru membunuh musisi karena publik sudah biasa menonton mereka, free di televisi," kata Sofyan Ali.

"Union harapannya dapat menghidupkan ekosistem industri musik," lanjut nya.

 

 


Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Musisi dan Pekerja Musik Sebaiknya Punya Organisasi, Candra Darusman: Bisa Menjadi Pressure Groups, https://wartakota.tribunnews.com/2020/10/29/musisi-dan-pekerja-musik-sebaiknya-punya-organisasi-candra-darusman-bisa-menjadi-pressure-groups?page=4.
Penulis: Irwan Wahyu Kintoko
Editor: Irwan Wahyu Kintoko

 


Klik sumber berita